Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Awan Panas Guguran Meluncur Hingga Ribuan Meter
YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya awan panas guguran dari puncak gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meski demikian, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa awan panas guguran tersebut merupakan bagian dari aktivitas erupsi yang masih berlangsung di Gunung Merapi. Fenomena ini terjadi akibat gugurnya material lava dari kubah yang masih aktif.
Berdasarkan laporan BPPTKG, awan panas guguran terjadi pada Rabu, 1 Juli 2026, dengan jarak luncur mengarah ke sektor barat daya mengikuti alur sungai yang berhulu di puncak Merapi. Selain awan panas, gunung api tersebut juga masih memperlihatkan aktivitas guguran lava yang terus dipantau secara intensif oleh petugas.
"Status Gunung Merapi masih Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di daerah yang berpotensi terdampak bahaya erupsi," ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya.
BPPTKG mengingatkan potensi bahaya masih berupa guguran lava dan awan panas yang dapat menjangkau beberapa kilometer dari puncak, terutama melalui alur Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Sementara itu, potensi ke arah tenggara meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Selain ancaman awan panas dan guguran lava, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar hujan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di sekitar kawasan puncak Merapi. Abu vulkanik juga dapat menyebar ke wilayah sekitar gunung bergantung pada arah dan kecepatan angin.
BPPTKG menegaskan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi terus dilakukan selama 24 jam. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya, serta mematuhi seluruh rekomendasi guna mengurangi risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Posting Komentar