Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif

Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif

JAKARTA – Gelombang dedolarisasi kian nyata di panggung finansial global. Sejumlah bank sentral di berbagai belahan dunia dilaporkan gencar memborong emas sebagai strategi taktis untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka. Langkah protektif ini diambil guna mengikis ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang dinilai memiliki volatilitas tinggi di tengah membara dan memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Hasil survei terbaru dari World Gold Council (WGC) mengonfirmasi fenomena ini, di mana sekitar 45 persen bank sentral di dunia menyatakan rencana mereka untuk terus menambah kepemilikan aset logam mulia secara berkala. Aksi akumulasi ini mempertegas status emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama di kala ketidakpastian melanda.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa motif utama di balik aksi borong massal ini adalah upaya menjaga stabilitas nilai kekayaan negara dari ancaman sistemik.

"Bank sentral ingin mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Selain itu, emas merupakan aset aman yang terbukti mampu mempertahankan nilainya saat terjadi krisis ekonomi maupun ketika inflasi tinggi," papar Ibrahim di Jakarta, Minggu (12/7/2026).

China dan Polandia Cetak Rapor Pembelian Fantastis

Dalam pergerakannya, Bank Sentral Tiongkok (PBOC) dilaporkan telah merealisasikan pembelian sekitar 15 ton emas pada bulan Juni 2026 kemarin. Volume tersebut diklaim menjadi rekor pembelian bulanan tertinggi bagi negeri tirai bambu di sepanjang tahun 2026 berjalan.

Tren agresif serupa juga ditunjukkan oleh Benua Biru. Bank Sentral Polandia dilaporkan telah mengamankan pasokan dan menambah cadangan emas mereka hingga menyentuh 82 ton hanya dalam kurun waktu semester I tahun 2026.

Berbanding terbalik dengan mitranya, cadangan emas Rusia justru dilaporkan mengalami penyusutan. Kendati belum disertai perilisan data resmi dari otoritas Kremlin, penurunan volume emas ini dikaitkan erat dengan besarnya kebutuhan pembiayaan domestik di tengah konflik berkepanjangan yang masih berlangsung dengan Ukraina.

Proyeksi Harga Sepekan ke Depan

Dinamika perburuan emas oleh otoritas moneter global ini diyakini akan menjadi katalisator kuat yang mendongkrak prospek harga emas di pasar spot internasional maupun domestik.

Ibrahim memproyeksikan, untuk perdagangan sepekan ke depan, harga emas dunia akan bergerak fluktuatif namun cenderung kuat pada kisaran level batas bawah (support) $3.906 per troy ounce hingga batas atas (resistance) kuat di level $4.348 per troy ounce.

Sementara itu, efek rambatan pada harga logam mulia batangan di dalam negeri diperkirakan bakal ikut terkerek tinggi, dengan rentang pergerakan harga di kisaran Rp2.570.000 hingga Rp2.800.000 per gram.

Emas terbukti tetap menjadi instrumen investasi paling tangguh saat terjadi gejolak makroekonomi maupun tekanan inflasi tinggi yang menggerus nilai mata uang konvensional.

"Jadi, dalam sepekan ke depan harga emas dunia kemungkinan bergerak di level support USD3.906 per troy ounce, sedangkan level resistance-nya berada di USD4.348 per troy ounce. Untuk logam mulia di dalam negeri, harga diperkirakan bergerak pada level support Rp2.570.000 per gram hingga resistance Rp2.800.000 per gram," pungkas Ibrahim menutup analisanya.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif
  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif
  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif
  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif
  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif
  • Dolar AS Bergejolak, 45 Persen Bank Sentral Global Berencana Borong Emas secara Masif

Posting Komentar