Nilai Tukar Rupiah Jeblok ke Angka Rp18.000 per Dolar AS, BI Pastikan Terus Intervensi Pasar
JAKARTA - Tekanan terhadap mata uang garuda kian berat setelah nilai tukar rupiah dilaporkan sempat menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Menanggapi kondisi makroekonomi yang fluktuatif ini, Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara untuk menjelaskan akar permasalahan eksternal yang terjadi sekaligus membeberkan sejumlah langkah antisipasi guna menstabilkan pasar keuangan domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah ini tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global yang bersumber dari kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat serta memanasnya tensi geopolitik di berbagai kawasan dunia.
"Tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih diliputi ketidakpastian serta sentimen risk-off dari investor global," ujar Perry Warjiyo dalam keterangannya yang dirilis pada Selasa (7/7/2026).
Kendati berada di bawah tekanan yang cukup kuat, Perry menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang sangat kokoh. Cadangan devisa yang dimiliki Indonesia dinilai lebih dari cukup untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi apabila diperlukan sewaktu-waktu.
Untuk meredam gejolak yang lebih dalam, bank sentral memastikan tidak tinggal diam dan terus menerapkan strategi intervensi secara terukur di pasar valuta asing (valas).
"Bank Indonesia terus berada di pasar untuk memastikan ketersediaan likuiditas dan meminimalkan volatilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Surat Berharga Negara (SBN)," tambah Perry memperinci langkah penyelamatan mata uang dalam negeri tersebut.
Selain mengandalkan intervensi langsung, BI juga terus memperkuat optimalisasi instrumen moneter pro-market, salah satunya dengan memaksimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) demi menarik kembali aliran modal asing yang sempat keluar dari pasar domestik. Kerja sama dengan pemerintah dalam mengawal stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi juga terus dipererat guna mempertahankan kepercayaan para pelaku pasar.

Posting Komentar