Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja

Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja

JAKARTA - Perawatan estetika seperti botox, filler, dan tanam benang semakin mudah ditemukan dan tidak lagi hanya diminati kalangan dewasa. Dalam beberapa tahun terakhir, prosedur tersebut juga mulai menarik perhatian anak muda yang ingin mengubah atau mempertahankan penampilan.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, apakah prosedur estetika aman dilakukan oleh remaja, khususnya mereka yang masih berusia 15 hingga 17 tahun?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi remaja yang bekerja sebagai model, pemeran, kreator konten, atau profesi lain yang menuntut mereka tampil di depan kamera.

Dokter tetap perlu mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, tujuan tindakan, serta manfaat dan risikonya sebelum memberikan prosedur estetika. Tidak semua tindakan yang dapat dilakukan pada orang dewasa otomatis sesuai untuk remaja.

Botox, filler, dan tanam benang tidak bisa disamakan

Head Doctor & Clinic Development Manager Derma Express Indonesia, dr. Gerrit Y. Fanuel, menjelaskan bahwa tindakan estetika pada usia muda perlu dipertimbangkan secara hati-hati.

Menurutnya, untuk tindakan estetika yang bertujuan memperbaiki penampilan, usia di atas 20 tahun umumnya lebih ideal. Namun, keputusan medis tetap perlu melihat kondisi masing-masing pasien.

"Kalau memang dibutuhkan, biasanya dinilai dulu apakah betul-betul harus dilakukan atau tidak," ujar dr. Gerrit dalam acara Morning Zone yang tayang di YouTube Okezone.

Ia mencontohkan pasien berusia 18 tahun yang berprofesi sebagai model dan memiliki tuntutan pekerjaan di luar negeri. Dalam kondisi tertentu seperti itu, dokter dapat mempertimbangkan tindakan tertentu setelah melakukan penilaian medis.

"Kalau memang harus dilakukan, sebisa mungkin dosisnya diminimalkan," jelas dr. Gerrit.

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak berarti remaja bebas menjalani prosedur estetika selama dosisnya dikurangi. Setiap prosedur mempunyai indikasi, risiko, serta batas keamanan yang berbeda.

Sebagai contoh, FDA menyatakan Botox Cosmetic tidak direkomendasikan untuk penggunaan kosmetik pada anak berusia di bawah 18 tahun. Sementara itu, untuk dermal filler, produk yang disetujui FDA untuk penggunaan tertentu umumnya ditujukan bagi orang dewasa, dan keamanan filler pada pasien di bawah 22 tahun belum diketahui.

Karena itu, usia 15-17 tahun tidak seharusnya dipandang sebagai usia yang secara umum aman untuk menjalani filler atau botox demi tujuan kosmetik.

Filler pada remaja perlu dipertimbangkan lebih jauh

Filler digunakan untuk menambah volume atau memperbaiki kontur pada bagian tertentu, misalnya bibir, pipi, atau dagu. Tindakan ini bukan sekadar perawatan kecantikan biasa, melainkan prosedur medis yang melibatkan penyuntikan bahan ke jaringan tubuh.

FDA mengingatkan bahwa filler dapat menimbulkan efek samping, mulai dari bengkak, memar, nyeri, hingga komplikasi yang lebih serius. Salah satu risiko paling berat terjadi ketika bahan secara tidak sengaja masuk ke pembuluh darah sehingga dapat mengganggu aliran darah ke jaringan. Dalam kasus tertentu, komplikasi tersebut bahkan dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau gangguan penglihatan.

Karena itu, tindakan filler seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan memahami anatomi area yang akan disuntik.

Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting pada pasien berusia muda. Wajah remaja masih mengalami perubahan seiring pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Bentuk wajah yang dianggap kurang ideal pada usia 15 atau 16 tahun belum tentu memiliki bentuk yang sama beberapa tahun kemudian.

Tidak semua rasa kurang percaya diri harus diatasi dengan tindakan estetika

Dr. Gerrit mengatakan prosedur seperti filler dan tanam benang tidak terlalu disarankan pada usia muda apabila tidak terdapat kebutuhan yang mendesak.

"Biasanya kalau usia seperti itu, masih bisa dilakukan penyesuaian dari tubuhnya sendiri," ujarnya.

Pada masa remaja, perubahan bentuk wajah merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Karena itu, keinginan untuk mendapatkan wajah lebih tirus, bentuk V-shape, atau mengurangi kesan pipi chubby sebaiknya tidak langsung diarahkan pada prosedur invasif.

Menurut dr. Gerrit, sebagian remaja perempuan merasa kurang percaya diri karena menganggap bentuk wajahnya belum sesuai dengan standar kecantikan yang mereka inginkan.

Padahal, penampilan juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas tidur, tingkat stres, pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan hormonal.

"Perempuan itu sangat berpengaruh karena sangat bergantung dengan hormonal. Jadi hormonal pun akan memengaruhi kulit," tuturnya.

Pola hidup tetap menjadi dasar

Sebelum mempertimbangkan tindakan estetika, menjaga pola hidup sehat dapat menjadi langkah yang lebih sederhana dan rendah risiko.

Tidur yang cukup, konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik, menjaga kebersihan kulit, serta mengelola stres merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi tubuh dan kulit.

Perubahan pada kulit selama masa remaja juga dapat berkaitan dengan perubahan hormonal. Karena itu, keluhan seperti jerawat, kulit berminyak, atau perubahan kondisi kulit tidak selalu membutuhkan prosedur estetika seperti filler atau tanam benang.

Jika terdapat masalah kulit yang cukup berat atau mengganggu kepercayaan diri, konsultasi dengan dokter kulit dapat menjadi pilihan yang lebih tepat untuk mengetahui penyebab dan penanganannya.

Bagaimana jika remaja memiliki tuntutan pekerjaan?

Tuntutan pekerjaan, termasuk kebutuhan tampil di depan kamera, tidak otomatis membuat prosedur estetika menjadi aman bagi remaja.

Jika seorang remaja memang memiliki kebutuhan profesional tertentu, keputusan mengenai tindakan tetap perlu dibuat berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan medis. Orang tua atau wali juga perlu dilibatkan sesuai usia pasien dan ketentuan yang berlaku.

Yang tidak kalah penting, remaja sebaiknya memahami bahwa prosedur estetika memiliki risiko dan bukan sekadar cara cepat untuk mendapatkan bentuk wajah tertentu.

FDA sendiri menekankan pentingnya memilih tenaga kesehatan berlisensi yang berpengalaman apabila seseorang mempertimbangkan prosedur filler. Pasien juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai manfaat, risiko, lokasi penyuntikan, serta kemungkinan komplikasi sebelum menjalani tindakan.

Dengan demikian, botox, filler, maupun tanam benang pada remaja tidak sebaiknya dilakukan hanya karena mengikuti tren atau tekanan untuk memenuhi standar penampilan tertentu.

Pada usia 15 hingga 17 tahun, pertumbuhan dan perubahan alami tubuh masih berlangsung. Karena itu, tindakan estetika untuk tujuan kosmetik perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati dan tidak dapat disamakan dengan kebutuhan pasien dewasa.

Jika terdapat alasan medis atau kebutuhan khusus, keputusan sebaiknya dibuat setelah konsultasi langsung dengan dokter yang kompeten. Keselamatan pasien tetap harus menjadi pertimbangan utama, bukan semata-mata hasil penampilan yang ingin dicapai.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja
  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja
  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja
  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja
  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja
  • Jangan Asal Ikut Tren, Ini Pertimbangan Botox dan Filler untuk Remaja

Posting Komentar