Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS

Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup terkapar di zona merah pada akhir perdagangan Senin (13/7/2026). Mata uang garuda merosot 44 poin atau sekitar 0,24 persen ke level Rp18.109 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa pelemahan tajam nilai tukar rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi hantaman sentimen eksternal (geopolitik global) dan sentimen negatif dari dalam negeri (krisis kepastian hukum).

Faktor Eksternal: Konflik AS-Iran dan Ancaman Pasokan Minyak

Dari luar negeri, eskalasi militer di Timur Tengah kembali membara setelah Iran dan AS dilaporkan saling meluncurkan serangan rudal serta pesawat tanpa awak (drone) berkapasitas berat pada akhir pekan lalu.

  • Penutupan Jalur Logistik: Teheran menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan secara sepihak kembali menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Insiden ini mengancam komitmen perjanjian gencatan senjata sementara 60 hari yang baru ditandatangani bulan lalu.

  • Dampak Pasokan Energi: Aktivitas pelayaran komersial melambat tajam akibat meluasnya serangan Iran hingga ke Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Jika Selat Hormuz terganggu dalam jangka panjang, kilang minyak di Asia dipaksa mencari pasokan alternatif yang memicu lonjakan biaya pengiriman dan asuransi kargo.

  • Sentimen Suku Bunga The Fed: Ancaman lonjakan harga energi memicu kekhawatiran terjadinya guncangan inflasi jilid baru. Kondisi ini memperkuat proyeksi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi (higher-for-longer) pada pertemuan 28-29 Juli mendatang demi meredam tekanan inflasi.

Faktor Domestik: Badai Kasus Korupsi Eks Jampidsus Rugikan Lingkungan Bisnis

Sementara dari dalam negeri, pasar merespons negatif eskalasi kasus dugaan mega korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menyeret mantan Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah. Konflik terbuka antar-lembaga penegak hukum dinilai merusak iklim investasi secara agregat.

"Kasus hukum yang terjadi saat ini bisa berdampak terhadap ekonomi. Pasalnya, hukum sebagai faktor lingkungan bisnis jelas sangat memengaruhi kinerja ekonomi melalui perilaku ekonomi, efisiensi ekonomi, investasi maupun inovasi," kata Ibrahim dalam risetnya.

Ibrahim menilai kasus Febrie merupakan cerminan dari puncak kerusakan penegakan hukum di Indonesia. Efek domino dari hancurnya kepastian hukum ini di antaranya:

  • Mempelopori mosi tidak percaya (vote of no confidence) dari pelaku pasar terhadap stabilitas domestik.

  • Menjatuhkan tingkat kepercayaan investor asing untuk menanamkan modal di tanah air.

  • Menyulitkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintah.

  • Menjadi ujian berat bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menata sinkronisasi aspek hukum dan ketahanan ekonomi.

Proyeksi Pergerakan Kurs Selanjutnya

Melihat masih tingginya tensi ketidakpastian di pasar finansial, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah pada sesi perdagangan berikutnya. Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS
  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS
  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS
  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS
  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS
  • Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Kurs Rupiah Ditutup Merosot 44 Poin Terhadap Dolar AS

Posting Komentar