Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan

Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 38 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp18.111 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal maupun domestik yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan.

Dari sisi global, sentimen dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (29/7/2026) mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran setelah serangan rudal Iran sehari sebelumnya yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania.

Menurut Ibrahim, pada hari yang sama AS bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut menjadi kali pertama Arab Saudi secara terbuka terlibat dalam operasi udara bersama AS sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone) terhadap fasilitas minyak Saudi yang diluncurkan dari wilayah Irak.

Selain itu, Komando Pusat AS melaporkan bahwa militer AS juga melakukan operasi militer terhadap Iran selama dua jam pada Rabu. Langkah tersebut mengakhiri penghentian sementara operasi militer AS terhadap Iran yang berlangsung sejak akhir pekan.

Situasi memanas setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia sejak pecahnya perang antara AS dan Israel pada 28 Februari.

Di saat bersamaan, kelompok Houthi yang didukung Iran juga menerapkan blokade laut terhadap Arab Saudi di kawasan Laut Merah sejak 20 Juli. Kebijakan itu mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, meski sejumlah pengiriman, terutama menggunakan kapal tanker yang terkait dengan China, masih tetap berlangsung.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Namun, keputusan tersebut diambil melalui hasil pemungutan suara yang tidak bulat, yakni 9 berbanding 3. Tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC), yakni Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, memilih agar suku bunga dinaikkan sebesar 25 basis poin.

"Yang menentang keputusan kebijakan moneter tersebut adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, yang lebih memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin," ujar Ibrahim.

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kondisi pasar yang lebih ketat telah membantu proses pengendalian inflasi. Ia menegaskan bank sentral siap mengambil langkah lanjutan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Dari dalam negeri, pasar mencermati proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen, lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.

Perlambatan tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, serta ketidakpastian dalam pengelolaan fiskal nasional.

Untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen, masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada proses pergantian pimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Selain itu, tekanan fiskal di daerah, hambatan ekspor mineral, serta sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan depan turut menjadi pertimbangan investor.

Data yang dinantikan meliputi inflasi Juli, neraca perdagangan Mei, posisi cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026, serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Berdasarkan perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.110 hingga Rp18.160 per dolar AS.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan
  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan
  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan
  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan
  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan
  • Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Timur Tengah hingga Prospek Ekonomi RI Jadi Sorotan

Posting Komentar