Ratusan Emiten Belum Penuhi Batas Free Float 15 Persen, BEI Siapkan Evaluasi Ketat Mulai Esok
JAKARTA – Tekanan bagi perusahaan publik untuk melepaskan porsi kepemilikan sahamnya ke masyarakat kian nyata. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa sebanyak 327 perusahaan tercatat, atau setara dengan 35,82 persen dari total keseluruhan emiten di tanah air, kedapatan belum mampu memenuhi ambang batas minimum saham beredar di publik (free float) sebesar 15 persen hingga posisi per 31 Maret 2026.
Merespons kondisi tersebut, otoritas bursa tidak tinggal diam. BEI menegaskan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tingkat kepatuhan para emiten nakal ini berdasarkan performa laporan keuangan dan struktur pemegang saham terbaru per 30 Juni 2026. Adapun batas akhir penyerahan dokumen wajib tersebut jatuh pada Jumat, 10 Juli 2026.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menyatakan bahwa bursa telah merumuskan berbagai langkah taktis dan strategis untuk membantu sekaligus mendesak para emiten agar segera mematuhi aturan tersebut. Selain gencar menggelar sosialisasi periodik, bursa juga membuka layanan pendampingan harian (hot desk) serta program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk mematangkan divisi hubungan investor (investor relations) masing-masing korporasi.
"Keempat, sosialisasi free float kepada perusahaan tercatat yang belum memenuhi target free float, sudah mulai dilakukan pada 5 Juni 2026 dan akan dilakukan rutin setiap 2 bulan sekali," jelas Saidu Solihin saat berbincang hangat dengan awak media di Gedung BEI, Jakarta, pada Kamis (9/7/2026).
Keseriusan bursa dalam membenahi likuiditas pasar modal juga ditunjukkan melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Monitoring Free Float. Tim khusus ini merupakan kolaborasi lintas lembaga yang mengintegrasikan kekuatan BEI, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), hingga Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).
"Satgas monitoring free float sudah melakukan pertemuan pertama pada Juni 2026. Pertemuan berikutnya akan diadakan rutin tiga bulan berikutnya," tambah Saidu menerangkan ritme kerja satgas baru tersebut.
Sebagai stimulus tambahan di pasar sekunder, BEI juga memfasilitasi para emiten yang kesulitan menjaring investor ritel melalui ajang presentasi publik terarah (public expose live). Agenda yang telah mempertemukan 8 emiten bermasalah dengan calon pemodal ini telah sukses digelar pada 9-11 Juni lalu dan direncanakan kembali bergulir pada September mendatang.
Tidak berhenti di pasar domestik, otoritas bursa bahkan bersiap mendampingi korporasi lokal untuk menjemput bola ke luar negeri demi memikat minat para manajer investasi asing agar mau menyerap saham-saham publik tersebut.
"Terakhir, Bursa juga akan mengadakan roadshow bagi perusahaan tercatat kepada investor di dalam dan luar negeri, mulai Agustus 2026 mendatang," pungkas Saidu optimistis.

Posting Komentar