Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.068 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada akhir perdagangan, Rabu (15/7/2026). Mata uang Garuda menguat 23 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS, bergerak di antara rilis data makroekonomi AS dan membubungnya tensi geopolitik Timur Tengah.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa performa rupiah kali ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang kontradiktif serta dinamika fiskal dari dalam negeri.
Faktor Eksternal: Konflik AS-Iran vs Redamnya Ekspektasi The Fed
Pasar global saat ini tengah dicengkeram oleh memanasnya kembali situasi di Timur Tengah. Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz usai Presiden Donald Trump memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran. Eskalasi militer meningkat seiring klaim serangan drone Iran ke pangkalan militer AS di Yordania, serta ancaman fasilitas di Bahrain dan Kuwait.
Namun, tekanan terhadap mata uang regional tertahan berkat rilis data inflasi AS bulan Juni yang melandai di bawah ekspektasi:
Inflasi Umum (YoY): Turun tajam dari 4,2% menjadi 3,5% (di bawah perkiraan pasar sebesar 3,8%).
Inflasi Inti (YoY): Turun dari 2,9% menjadi 2,6% (di bawah perkiraan sebesar 2,8%).
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) tidak perlu lagi menaikkan suku bunga secara agresif. Data CME FedWatch Tool mencatat probabilitas kenaikan suku bunga global pada Juli anjlok menjadi 16% (dari sebelumnya 40%).
Faktor Domestik: Outlook Pembengkakan Defisit APBN & Utang Negara
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada melebarnya defisit APBN 2026 yang mengerek kebutuhan pembiayaan utang baru secara bruto hingga menembus Rp1.768 triliun pada tahun ini.
Proyeksi Fiskal Akhir Tahun: Berdasarkan data terkini, posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 berada di angka Rp9.638 triliun. Dengan adanya tambahan penarikan utang baru serta dampak pelemahan kurs, total utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan membengkak ke kisaran Rp10.600 triliun.
Berikut perbandingan antara target awal APBN 2026 dengan proyeksi (outlook) terbaru pemerintah:
| Indikator Fiskal | Target Awal APBN 2026 | Proyeksi Terbaru (Outlook) |
| Defisit Anggaran | Rp 689,15 Triliun | Rp 734,32 Triliun (Melebar) |
| Pembiayaan Utang Neto | Rp 832,21 Triliun | Rp 868,12 Triliun (Meningkat) |
| Beban Pokok Jatuh Tempo | — | ± Rp 900 Triliun (Harus dibayar tahun ini) |
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 tumbuh 2,1% secara tahunan (yoy) menjadi USD444,4 miliar. BI menegaskan kenaikan ini masih terkendali karena ditopang oleh masuknya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang menandakan kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik masih solid.
Prospek Kurs Berikutnya: Mempertimbangkan tingginya ketidakpastian global dan beban fiskal dalam negeri, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060 - Rp18.110 per dolar AS.

Posting Komentar