5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

JAKARTA - Penyakit jantung sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang baru muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut. Padahal, faktor risikonya dapat terbentuk sejak usia muda melalui kebiasaan yang dilakukan berulang setiap hari.

Merokok, terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, gemar menyantap makanan olahan, serta jarang melakukan aktivitas fisik merupakan sejumlah kebiasaan yang perlu diperhatikan. Jika berlangsung dalam jangka panjang, pola hidup tersebut dapat berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolisme yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui edukasi di akun Instagram pribadinya menyoroti sejumlah kebiasaan yang banyak dilakukan anak muda. Menurut dia, dampaknya terhadap kesehatan jantung mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat menjadi persoalan dalam beberapa tahun mendatang.

1. Merokok dan Menggunakan Vape

Merokok menjadi salah satu faktor risiko yang paling perlu dihindari. Paparan zat kimia dari rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular.

Dr. Bobby juga mengingatkan bahwa beralih ke rokok elektrik bukan berarti seseorang terbebas dari risiko kesehatan.

"Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," ujar dr. Bobby.

Rokok elektrik tetap dapat mengandung nikotin dan bukan merupakan produk yang bebas risiko. Karena itu, kebiasaan mengisap vape tidak seharusnya dianggap sebagai pilihan yang aman bagi kesehatan jantung.

2. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan dan Minuman Manis

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, makanan penutup, serta camilan tinggi gula juga patut dikendalikan.

Asupan gula berlebih dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko gangguan metabolik. Diabetes sendiri merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," tutur dr. Bobby.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Pada pola makan sekitar 2.000 kalori per hari, jumlah tersebut setara dengan sekitar 50 gram gula bebas. Batas ini bukan berarti setiap orang harus mengonsumsi gula sebanyak itu, melainkan menjadi batas atas yang sebaiknya tidak dilampaui.

3. Terlalu Sering Makan Fast Food dan Makanan Ultra-Proses

Masalah pola makan tidak berhenti pada gula. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan ultra-proses juga perlu mendapat perhatian, terutama apabila makanan tersebut tinggi garam, lemak jenuh, dan kalori.

Asupan garam yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika hipertensi tidak dikendalikan, risiko penyakit jantung dan stroke juga meningkat.

"Makanan cepat saji dan UPF tinggi akan garam. Kelebihan konsumsi garam harian meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," kata dr. Bobby.

WHO merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 5 gram garam per hari atau setara dengan kurang dari 2.000 miligram natrium. Makanan olahan dan makanan siap santap menjadi salah satu sumber natrium yang perlu diperhatikan.

Karena itu, membatasi makanan tinggi garam tidak hanya berarti mengurangi garam yang ditambahkan saat memasak. Kandungan natrium dari makanan kemasan, makanan cepat saji, saus, dan bumbu juga perlu diperhitungkan.

4. Terlalu Banyak Duduk dan Jarang Berolahraga

Gaya hidup sedentari juga dapat menjadi persoalan apabila berlangsung terus-menerus.

Kurangnya aktivitas fisik dapat mempermudah terjadinya kenaikan berat badan dan obesitas. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berjalan bersama dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tidak terkendali, serta gangguan metabolisme lain yang membebani kesehatan jantung.

"Gen Z yang hobinya mager dan tidak ada waktu khusus olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio sangat rentan sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelas dr. Bobby.

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Membiasakan tubuh bergerak secara teratur, mengurangi waktu duduk terlalu lama, serta melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

5. Membiarkan Faktor Risiko Berlangsung Bertahun-tahun

Yang sering luput diperhatikan bukan hanya satu kebiasaan, melainkan kombinasi berbagai faktor risiko yang dibiarkan dalam waktu lama.

Misalnya, seseorang yang merokok, jarang bergerak, sering mengonsumsi makanan tinggi gula dan garam, kemudian mengalami obesitas. Seiring waktu, kombinasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan munculnya hipertensi, diabetes, dan gangguan pembuluh darah.

Kementerian Kesehatan menyebut hipertensi, obesitas, merokok, diabetes melitus, dan kurang aktivitas fisik sebagai sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit kardiovaskular.

Karena itu, menjaga kesehatan jantung sejak muda bukan berarti menunggu munculnya keluhan. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan kondisi berat badan dapat membantu mengenali faktor risiko lebih awal. Kementerian Kesehatan juga mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai bagian dari upaya deteksi dini penyakit tidak menular.

Bisa Berujung pada Gagal Jantung

Penyakit jantung terdiri atas berbagai kondisi dan tidak semuanya berakhir pada gagal jantung. Namun, penyakit jantung tertentu yang berlangsung kronis dapat menyebabkan kemampuan jantung memompa darah semakin menurun.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa gagal jantung merupakan kondisi ketika struktur atau fungsi jantung mengalami gangguan sehingga kemampuan jantung mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh tidak lagi optimal. Penyebabnya dapat berkaitan dengan berbagai penyakit pada jantung, pembuluh darah, maupun gangguan metabolisme.

Karena itu, faktor risiko yang muncul sejak usia muda sebaiknya tidak dianggap sebagai masalah yang baru perlu ditangani ketika memasuki usia tua.

Teknologi untuk Pasien Gagal Jantung

Di sisi lain, perkembangan teknologi medis terus dilakukan untuk membantu pasien dengan gagal jantung berat, terutama mereka yang memiliki pilihan terapi terbatas.

Salah satu teknologi yang digunakan pada kondisi tertentu adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD). Perangkat ini berupa pompa mekanis yang membantu fungsi ventrikel kiri dalam mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

Teknologi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan pada pasien tertentu, termasuk sebagai jembatan menuju transplantasi atau terapi jangka panjang sesuai kondisi medis pasien.

Kehadiran teknologi seperti LVAD menjadi penting mengingat transplantasi jantung membutuhkan donor yang sesuai dan kesiapan sistem pelayanan kesehatan. Namun, teknologi tersebut bukan pengganti pencegahan. Menjaga pola hidup tetap menjadi bagian penting untuk menekan faktor risiko penyakit jantung sejak usia muda.

Pada akhirnya, kesehatan jantung Gen Z tidak hanya ditentukan oleh kondisi saat ini. Kebiasaan yang dibangun sejak muda dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

Mengurangi rokok dan vape, membatasi konsumsi gula serta garam, memilih makanan yang lebih bergizi, rutin bergerak, menjaga berat badan, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum masalah jantung muncul.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
  • 5 Kebiasaan Gen Z yang Diam-Diam Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Posting Komentar