Ketegangan Pecah di Lebanon, Perintah Baru Netanyahu Targetkan Wilayah Padat Penduduk Beirut
BEIRUT – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi memerintahkan militer Israel (IDF) untuk melancarkan serangan udara skala besar ke kawasan pinggiran kota Beirut, Lebanon. Langkah agresif ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Serangan yang terjadi pada Selasa (2/6) waktu setempat tersebut menargetkan wilayah pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai Dahiyeh—sebuah kawasan padat penduduk yang selama ini diklaim Israel sebagai benteng pertahanan dan pusat komando kelompok Hizbullah.
Suara ledakan dahsyat terdengar hingga ke pusat kota Beirut, melempar gumpalan asap hitam pekat ke langit. Warga setempat dilaporkan panik dan berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman setelah sirene peringatan bahaya berbunyi berulang kali.
Alasan di Balik Perintah Netanyahu
Dalam pidato singkatnya yang disiarkan televisi nasional Israel beberapa jam setelah serangan dimulai, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer ini terpaksa diambil demi merespons serangan roket yang terus-menerus ditembakkan dari wilayah Lebanon selatan ke perbatasan utara Israel.
"Kami tidak akan membiarkan warga kami terus menjadi target. Perintah hari ini sangat jelas: hancurkan infrastruktur musuh di mana pun mereka bersembunyi, termasuk di jantung Beirut," tegas Netanyahu dalam pernyataan resminya.
Militer Israel mengklaim bahwa jet-jet tempur mereka berhasil menghantam beberapa target strategis, termasuk pusat penyimpanan senjata dan fasilitas bawah tanah milik kelompok militan.
Kepanikan di Beirut dan Respons Lebanon
Sementara itu, kondisi di pinggiran Beirut dilaporkan luluh lantak. Beberapa bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan parah akibat hantaman rudal. Tim penyelamat dan petugas medis Lebanon langsung dikerahkan ke lokasi ledakan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di balik puing-puing bangunan.
Pemerintah Lebanon mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara mereka. Perdana Menteri Lebanon menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera turun tangan menghentikan agresi Israel sebelum situasi lepas kendali.
Hingga berita ini diturunkan, korban jiwa dan luka-luka dilaporkan terus berjatuhan, namun jumlah pastinya masih dalam proses pendataan oleh otoritas medis setempat. Dunia internasional kini menatap cemas ke arah Beirut, menanti apakah eskalasi ini akan menjadi pemicu perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.

Posting Komentar