BMKG: El Nino Menguat, Waspadai Cuaca Ekstrem di Tengah Musim Kemarau
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang masih dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, hingga Dasarian I Juli 2026 musim kemarau telah terjadi di 423 Zona Musim atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia. Pada periode yang sama, sekitar 72,38 persen wilayah didominasi curah hujan rendah, seiring menguatnya fenomena El Nino.
BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 mencapai +1,88 pada periode dasarian, sementara indeks mingguan berada di angka +1,47 dengan Southern Oscillation Index (SOI) 30 hari sebesar -27,4. Kondisi tersebut diperkirakan semakin memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah daerah dan berpotensi berkembang menjadi El Nino kuat pada 2026.
Meski kondisi global mengarah pada penurunan peluang hujan, BMKG menyebut aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial masih berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di beberapa wilayah, terutama di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG menjelaskan, aktivitas MJO diprakirakan masih aktif di sejumlah wilayah, seperti Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan di daerah-daerah tersebut meskipun musim kemarau semakin dominan.
Untuk periode 18–23 Juli 2026, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami cuaca cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta sejumlah wilayah di Papua.
Selain potensi hujan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait kemungkinan angin kencang pada 20–23 Juli 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, sejumlah wilayah Sulawesi, serta Papua Barat.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti suhu udara yang lebih tinggi, kekeringan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak mengabaikan potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi secara lokal. Hujan sedang hingga lebat masih berpeluang disertai petir dan angin kencang, sehingga berpotensi menimbulkan pohon tumbang, baliho roboh, genangan, maupun sambaran petir.
BMKG turut mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan selama musim kemarau guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca serta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, sehingga dapat mengambil langkah antisipatif guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem, kekeringan, maupun kebakaran hutan dan lahan.

Posting Komentar