Bukan Dipengaruhi Hal Mistis, Ini Penjelasan Medis tentang Fenomena Sleepwalking
TheRefinedPost.com - Pernah melihat seseorang berjalan, berbicara, atau melakukan aktivitas tertentu ketika sedang tidur? Fenomena tersebut dikenal sebagai somnambulism atau sleepwalking, yaitu gangguan tidur yang membuat seseorang melakukan berbagai tindakan tanpa sadar saat masih berada dalam kondisi terlelap.
Meski terlihat seperti sedang terbangun, orang yang mengalami sleepwalking sebenarnya masih berada dalam fase tidur. Kondisi ini membuat aktivitas yang dilakukan tidak sepenuhnya disadari oleh penderitanya.
Lantas, apakah somnambulism berbahaya? Berikut penjelasan mengenai gejala, penyebab, serta kapan kondisi ini perlu mendapatkan perhatian medis.
Apa Itu Somnambulism?
Mengutip informasi dari Mayo Clinic, somnambulism lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Pada banyak kasus, kondisi tersebut akan berhenti dengan sendirinya ketika seseorang memasuki masa remaja.
Namun, apabila sleepwalking tetap terjadi hingga usia dewasa atau baru muncul saat dewasa, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan tidur tertentu maupun masalah kesehatan lainnya sehingga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Somnambulism termasuk dalam kategori parasomnia, yaitu kelompok gangguan tidur yang menyebabkan munculnya perilaku tidak biasa selama seseorang tertidur. Kondisi ini umumnya terjadi ketika seseorang memasuki fase tidur dalam atau non-rapid eye movement (NREM), biasanya sekitar satu hingga dua jam setelah mulai tertidur.
Saat mengalami sleepwalking, seseorang dapat terlihat seperti sadar karena matanya terbuka. Akan tetapi, aktivitas otak masih berada dalam kondisi tidur sehingga mereka tidak benar-benar memahami tindakan yang sedang dilakukan.
Gejala Somnambulism
Gejala sleepwalking dapat berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain bangun dari tempat tidur lalu berjalan, duduk dengan tatapan kosong, sulit diajak berkomunikasi, tidak memberikan respons ketika dipanggil, sulit dibangunkan, serta mengalami kebingungan selama beberapa menit setelah terbangun.
Penderita juga sering kali tidak mengingat kejadian yang dialami setelah kembali sadar.
Dalam kondisi tertentu, sleepwalking dapat membuat seseorang melakukan aktivitas yang lebih kompleks, seperti mengenakan pakaian, makan, berbicara, keluar rumah, bahkan mengendarai kendaraan tanpa kesadaran penuh.
Aktivitas tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan atau cedera, baik bagi penderita maupun orang di sekitarnya.
Penyebab Somnambulism
Hingga saat ini, penyebab pasti somnambulism belum diketahui secara menyeluruh. Namun, sejumlah faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi tersebut.
Beberapa pemicu yang sering dikaitkan dengan sleepwalking meliputi kurang tidur, stres atau tekanan emosional, demam, pola tidur yang tidak teratur, serta gangguan tidur lain seperti obstructive sleep apnea.
Selain itu, konsumsi obat tertentu, terutama obat penenang atau obat tidur, serta konsumsi alkohol juga dapat memicu munculnya kondisi ini.
Beberapa gangguan kesehatan juga diketahui memiliki kaitan dengan somnambulism, seperti restless legs syndrome dan penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
Faktor genetik turut berpengaruh. Seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami sleepwalking apabila terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat kondisi serupa.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Sleepwalking yang terjadi sesekali umumnya tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, pemeriksaan medis dianjurkan apabila kondisi tersebut terjadi secara berulang, terutama lebih dari satu hingga dua kali dalam seminggu.
Konsultasi dengan dokter juga diperlukan jika sleepwalking menyebabkan cedera, membahayakan diri sendiri maupun orang lain, mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari, masih berlanjut hingga usia remaja, atau baru muncul ketika seseorang sudah dewasa.
Dengan mengetahui penyebab dan tanda-tandanya, kondisi somnambulism dapat ditangani dengan lebih tepat sehingga risiko yang mungkin terjadi dapat diminimalkan.

Posting Komentar