Dokter Tegaskan Jenis Kelamin Bayi Ditentukan oleh Kromosom Sperma Ayah
JAKARTA — Anggapan bahwa ibu bertanggung jawab atas jenis kelamin bayi yang dilahirkan masih kerap ditemukan di masyarakat. Padahal, secara ilmiah, jenis kelamin janin ditentukan sejak proses pembuahan dan dipengaruhi oleh kromosom yang dibawa sperma dari ayah.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, Gia Pratama, menjelaskan bahwa penentuan jenis kelamin bayi terjadi ketika sel telur dan sperma bertemu. Kombinasi kromosom dari kedua sel tersebut akan menentukan apakah bayi berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.
“Teman-teman, jenis kelamin bayi ditentukan sejak proses pembuahan dari pasangan kromosomnya,” ujar dr. Gia melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Minggu (18/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa sel telur yang dihasilkan ibu selalu membawa kromosom X. Sementara itu, sperma dari ayah dapat membawa dua jenis kromosom, yakni X atau Y.
“Nah, sel telur dari ibu selalu membawa kromosom X, sedangkan sperma dari ayah bisa membawa kromosom X atau kromosom Y,” katanya.
Menurut dr. Gia, apabila sel telur yang membawa kromosom X dibuahi oleh sperma berkromosom X, maka akan terbentuk kombinasi XX yang menghasilkan bayi berjenis kelamin perempuan.
Sebaliknya, apabila sperma yang membuahi membawa kromosom Y, maka akan terbentuk pasangan kromosom XY yang menandakan bayi berjenis kelamin laki-laki.
“Jadi kromosom dari sperma ayahlah yang menentukan bayi akan memiliki pasangan XX atau pasangan XY dengan peluangnya hampir seimbang, fifty-fifty,” jelasnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dr. Gia mengingatkan bahwa tidak tepat jika seorang suami menyalahkan istrinya ketika jenis kelamin anak yang lahir tidak sesuai dengan harapan.
Menurutnya, seorang ibu telah menjalani proses kehamilan yang panjang dan penuh tantangan, mulai dari mengandung, memberikan nutrisi kepada janin, hingga menghadapi berbagai perubahan fisik selama kurang lebih sembilan bulan.
“Dari sini kita belajar satu hal penting. Kurang tepat jika ada suami menyalahkan istri ketika bayi yang lahir tidak sesuai yang dia inginkan. Seorang ibu sudah membawa, menjaga, memberi makan, dan mempertaruhkan tubuhnya selama sembilan bulan,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghargai setiap kelahiran tanpa membedakan jenis kelamin anak. Baik laki-laki maupun perempuan, menurutnya, merupakan anugerah yang layak disambut dengan kasih sayang dan rasa syukur yang sama.
“Laki-laki atau perempuan, keduanya tetap amanah. Keduanya datang membawa masa depan. Keduanya berhak disambut dengan cinta yang sama besar,” tutup dr. Gia.


Posting Komentar