Indonesia Ekspor 38,4 Ton Kopi ke Tiongkok dan Maroko Senilai USD227.443
JAKARTA – Indonesia kembali memperluas pasar ekspor komoditas kopi dengan mengirimkan produk ke Tiongkok dan Maroko. Ekspor tersebut menjadi salah satu bukti bahwa optimalisasi Sistem Resi Gudang (SRG) dapat meningkatkan daya saing komoditas, nilai tambah produk, sekaligus membuka akses pasar internasional bagi petani dan pelaku usaha.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya mengatakan, ekspor awal tersebut terdiri atas dua kontainer kopi dengan total volume 38,4 ton. Nilai keseluruhan ekspor mencapai USD227.443,2.
Rinciannya, satu kontainer berisi kopi Robusta Grade 2 sebanyak 19,2 ton senilai USD71.040 dikirim ke Maroko. Sementara itu, satu kontainer lainnya berisi kopi Arabica Semi-Wash dengan volume 19,2 ton senilai USD156.403,2 diekspor ke Tiongkok.
Setelah pengiriman awal tersebut, ekspor kopi ke Tiongkok akan dilanjutkan dengan pengiriman delapan kontainer kopi Arabica Semi-Wash. Total volumenya mencapai 153,6 ton dengan nilai USD1.251.225,60.
Seluruh komoditas kopi tersebut berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage.
“Keberhasilan implementasi SRG untuk ekspor ini merupakan hasil sinergi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Optimalnya peran semua pihak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan ini,” ujar Tirta, Senin (20/7/2026).
Ekosistem ekspor tersebut melibatkan sejumlah pihak. Petani tergabung dalam Koperasi Gunung Luhur Berkah, sedangkan PT ASLI Logistik Indonesia berperan sebagai agregator.
Pengelolaan Gudang SRG dilakukan oleh PT Sucofindo. Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia berperan sebagai pemilik gudang sekaligus pihak yang menginisiasi SRG Berbasis Rel.
PT Kliring Berjangka Indonesia juga terlibat sebagai pusat registrasi SRG. Di sisi pembiayaan, Bank BJB dan PT ASLI Pangan Indonesia turut berperan dalam menghimpun investor untuk mendukung ekosistem tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung juga memiliki peran dalam mendukung pengembangan ekosistem SRG hingga mampu mendukung kegiatan ekspor.
Menurut Tirta, ekspor kopi melalui mekanisme SRG memiliki arti penting bagi penguatan rantai pasok komoditas nasional. Kopi yang disimpan melalui SRG dapat menjaga kualitas komoditas sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Selain itu, SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan bagi pelaku usaha di dalam negeri. Sistem tersebut juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang menghubungkan petani dan pelaku usaha kopi Indonesia dengan pasar global.
Ekspansi ke Tiongkok dan Maroko juga menunjukkan adanya peluang untuk memperluas dan mendiversifikasi negara tujuan ekspor kopi Indonesia. Dengan demikian, pasar ekspor kopi tidak hanya bergantung pada negara-negara tujuan tertentu.
“Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 9 Tahun 2006 juncto UU Nomor 9 Tahun 2011,” kata Tirta.
Menurutnya, pemanfaatan SRG dapat memperkuat posisi tawar petani, memperluas akses terhadap pembiayaan, serta memberikan jaminan terhadap kualitas dan kuantitas komoditas yang disimpan.
Dengan pengelolaan yang optimal dan dukungan dari berbagai pihak, SRG diharapkan dapat terus memperkuat daya saing komoditas Indonesia sekaligus memperluas akses produk nasional ke pasar internasional.

Posting Komentar