Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026). Rupiah turun 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.948 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen yang menekan rupiah berasal dari perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.

Menurut Ibrahim, kedua negara saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menyatakan telah melakukan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada Minggu malam.

“Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Ia menjelaskan, militer AS menyerang sejumlah target di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangan terhadap beberapa negara Teluk di kawasan tersebut.

Konflik masih berkaitan erat dengan situasi di Selat Hormuz. CENTCOM menyebut serangan terbaru itu bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran menjadi salah satu konflik terburuk antara kedua negara sejak sebelum gencatan senjata pada April lalu. Sementara itu, upaya pembicaraan damai antara kedua pihak disebut belum menunjukkan perkembangan berarti.

Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian pasar. Aktivitas pengiriman disebut masih berada jauh di bawah level sebelum konflik, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan mendorong kenaikan premi risiko komoditas tersebut.

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati kondisi ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi dan pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan ekonomi.

Namun, perhatian pasar tetap tertuju pada dampak kenaikan harga energi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan di atas target bank sentral AS.

Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik imbal hasil aset berdenominasi dolar AS.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai derasnya investasi asing belum sepenuhnya mampu mengimbangi pelemahan investasi domestik dan konsumsi rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan berada di sekitar 4,9 persen secara tahunan atau year on year (yoy), atau masih di bawah level 5 persen.

Realisasi investasi pada periode tersebut mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy. Meski menjadi sinyal positif dan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global, komposisi investasi menunjukkan adanya perubahan.

Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh 27,5 persen yoy. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami kontraksi 7,8 persen yoy. Penurunan tersebut menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan masih kuatnya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, khususnya pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.

Di sisi lain, pelaku usaha domestik masih cenderung menahan ekspansi karena dipengaruhi lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga keseimbangan antara agenda hilirisasi dan pengembangan sektor-sektor yang mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Sektor manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi juga dinilai penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk ke Indonesia.

Berdasarkan sejumlah sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan fluktuatif dan berpotensi kembali melemah.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama
  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama
  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama
  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama
  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama
  • Rupiah Ambruk ke Rp17.948 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Posting Komentar